Pendampingan Terintegrasi Produksi dan Manajemen Usaha Tingkatkan Kinerja UMKM Kopi Lokal
Upaya penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi dan tata kelola usaha. Salah satu bentuk konkret upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pendampingan terintegrasi produksi dan manajemen usaha pada UMKM Poletana Coffee Roastery di Kota Parepare.Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim dosen bersama mahasiswa sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Program pendampingan dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi UMKM kopi, khususnya keterbatasan kapasitas produksi, efisiensi proses pengolahan, serta lemahnya sistem manajemen usaha dan pencatatan keuangan.Pada tahap awal, tim pengabdian melakukan identifikasi dan analisis situasi usaha mitra melalui observasi langsung dan diskusi intensif dengan pemilik usaha. Hasil analisis menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk kopi Poletana Coffee Roastery terus meningkat seiring berkembangnya budaya konsumsi kopi dan pemasaran berbasis digital. Namun, peningkatan permintaan tersebut belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh kapasitas produksi yang ada, karena penggunaan peralatan yang masih sederhana dan belum optimal.
Selain aspek produksi, permasalahan juga ditemukan pada sistem manajemen usaha. Pencatatan transaksi, pengelolaan stok, serta perencanaan produksi masih dilakukan secara manual dan belum terstruktur. Kondisi ini menyulitkan pelaku usaha dalam melakukan evaluasi kinerja, menghitung keuntungan secara akurat, serta menyusun strategi pengembangan usaha berbasis data. Menanggapi permasalahan tersebut, tim pengabdian melaksanakan pendampingan terintegrasi yang mencakup dua aspek utama, yaitu peningkatan teknologi produksi dan penguatan manajemen usaha. Pada aspek produksi, mitra mendapatkan pendampingan penggunaan peralatan produksi yang lebih efisien, khususnya pada proses penggilingan kopi bubuk, sehingga mampu meningkatkan kapasitas dan konsistensi hasil produksi. Sementara itu, pada aspek manajemen, mitra didampingi dalam penerapan sistem pencatatan usaha berbasis digital sederhana yang mencakup transaksi harian, manajemen stok, dan perencanaan produksi. Ketua tim pengabdian menyampaikan bahwa pendekatan pendampingan dipilih agar mitra tidak hanya menerima bantuan dalam bentuk alat atau pelatihan sesaat, tetapi juga mampu mengadopsi praktik usaha yang lebih profesional secara berkelanjutan. “Pendampingan ini dirancang agar UMKM mampu meningkatkan kinerja usaha secara menyeluruh, baik dari sisi produksi maupun manajemen, sehingga pertumbuhan usaha dapat berjalan lebih stabil dan terukur,” ujarnya.
Hasil pendampingan menunjukkan dampak positif terhadap kinerja UMKM mitra. Volume produksi kopi bubuk mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan kondisi sebelum pendampingan. Selain peningkatan jumlah produksi, stabilitas produksi juga semakin baik, sehingga mitra lebih siap dalam memenuhi permintaan pasar secara konsisten. Dari sisi manajemen, mitra mulai menerapkan pencatatan usaha yang lebih tertib dan terstruktur, yang menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan usaha. Pemilik Poletana Coffee Roastery mengapresiasi kegiatan pendampingan yang dilakukan karena dinilai memberikan manfaat langsung bagi keberlangsungan usahanya. Menurutnya, pendampingan tidak hanya membantu meningkatkan produksi, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai pentingnya manajemen usaha dan pengelolaan keuangan yang baik. “Dengan adanya pendampingan ini, kami lebih memahami bagaimana mengatur produksi, mencatat transaksi, dan merencanakan pengembangan usaha ke depan,” ungkapnya. Selain memberikan dampak pada mitra usaha, kegiatan pengabdian ini juga melibatkan mahasiswa secara aktif. Keterlibatan mahasiswa menjadi sarana pembelajaran kontekstual, di mana mahasiswa dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam permasalahan nyata di masyarakat. Hal ini sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Ke depan, tim pengabdian berharap hasil pendampingan ini dapat menjadi model pemberdayaan UMKM berbasis kolaborasi yang berkelanjutan. Dengan penguatan produksi dan manajemen usaha secara terintegrasi, UMKM kopi lokal diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pasar, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah.
